Proses Terjadinya Hujan Salju - Bagaimana proses terjadinya hujan salju? Untuk menjawab
itu, bisa kita mulai dari proses terjadinya salju. Berawal dari uap air yang
berkumpul di atmosfer Bumi, kumpulan uap air mendingin sampai pada titik
kondensasi (yaitu temperatur di mana gas berubah bentuk menjadi cair atau
padat), kemudian menggumpal membentuk awan. Pada saat awal pembentukan awan,
massanya jauh lebih kecil daripada massa udara sehingga awan tersebut mengapung
di udara persis seperti kayu balok yang mengapung di atas permukaan air. Namun,
setelah kumpulan uap terus bertambah dan bergabung ke dalam awan tersebut,
massanya juga bertambah, sehingga pada suatu ketika udara tidak sanggup lagi
menahannya. Awan tersebut pecah dan partikel air pun jatuh ke Bumi.
Partikel air yang jatuh itu adalah
air murni (belum terkotori oleh partikel lain). Air murni tidak langsung
membeku pada temperatur 0 derajat Celcius, karena pada suhu tersebut terjadi
perubahan fase dari cair ke padat. Untuk membuat air murni beku dibutuhkan
temperatur lebih rendah daripada 0 derajat Celcius. Ini juga terjadi saat kita
menjerang air, air menguap kalau temperaturnya di atas 100 derajat Celcius
karena pada 100 derajat Celcius adalah perubahan fase dari cair ke uap. Untuk
mempercepat perubahan fase sebuah zat, biasanya ditambahkan zat-zat khusus,
misalnya garam dipakai untuk mempercepat fase pencairan es ke air.
Biasanya temperatur udara tepat di
bawah awan adalah di bawah 0 derajat Celcius (temperatur udara tergantung pada
ketinggiannya di atas permukaan air laut). Tapi, temperatur yang rendah saja
belum cukup untuk menciptakan salju. Saat partikel-partikel air murni tersebut
bersentuhan dengan udara, maka air murni tersebut terkotori oleh
partikel-partikel lain. Ada partikel-partikel tertentu yang berfungsi
mempercepat fase pembekuan, sehingga air murni dengan cepat menjadi
kristal-kristal es.
Partikel-partikel pengotor yang
terlibat dalam proses ini disebut nukleator, selain berfungsi sebagai
pemercepat fase pembekuan, juga perekat antaruap air. Sehingga partikel air
(yang tidak murni lagi) bergabung bersama dengan partikel air lainnya membentuk
kristal lebih besar.
Jika temperatur udara tidak sampai
melelehkan kristal es tersebut, kristal-kristal es jatuh ke tanah. Dan inilah
salju! Jika tidak, kristal es tersebut meleleh dan sampai ke tanah dalam bentuk
hujan air.
Pada banyak kasus di dunia ini,
proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju beberapa saat dia jatuh dari
awan, tapi kemudian mencair saat melintasi udara yang panas. Kadang kala, jika
temperatur sangat rendah, kristal-kristal es itu bisa membentuk bola-bola es
kecil dan terjadilah hujan es. Kota Bandung termasuk yang relatif sering
mengalami hujan es. Jadi, ini sebabnya kenapa salju sangat susah turun secara
alami di daerah tropik yang memiliki temperatur udara relatif tinggi dibanding
wilayah yang sedang mengalami musim dingin.
Kristal salju memiliki struktur
unik, tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia ini
seperti sidik jari kita. Bayangkan, salju sudah turun semenjak bumi tercipta
hingga sekarang, dan tidak satu pun salju yang memiliki bentuk struktur kristal
yang sama!
Keunikan salju yang lainnya adalah
warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat, hamparan bumi menjadi putih,
bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan struktur kristal salju
memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah
yang sama, maka muncullah warna putih. Fenomena yang sama juga bisa kita dapati
saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan gula, kabut, awan, dan cat
putih.
Akibat Hujan Salju Melanda Berhari-hari
Bagaimana
proses terjadinya hujan salju?
![]() |
Untuk
menjawab itu, bisa kita mulai dari proses terjadinya salju... dan sebenarnya
mengenai ini sudah dijelaskan diatas yaitu berawal dari uap air yang berkumpul
di atmosfer Bumi, kumpulan uap air mendingin sampai pada titik kondensasi
(yaitu temperatur di mana gas berubah bentuk menjadi cair atau padat), kemudian
menggumpal membentuk awan. Pada saat awal pembentukan awan, massanya jauh lebih
kecil daripada massa udara sehingga awan tersebut mengapung di udara persis
seperti kayu balok yang mengapung di atas permukaan air. Namun, setelah
kumpulan uap terus bertambah dan bergabung ke dalam awan tersebut, massanya
juga bertambah, sehingga pada suatu ketika udara tidak sanggup lagi menahannya.
Awan tersebut pecah dan partikel air pun jatuh ke Bumi.
Partikel
air yang jatuh itu adalah air murni (belum terkotori oleh partikel lain). Air
murni tidak langsung membeku pada temperatur 0 derajat Celcius, karena pada
suhu tersebut terjadi perubahan fase dari cair ke padat. Untuk membuat air
murni beku dibutuhkan temperatur lebih rendah daripada 0 derajat Celcius. Ini
juga terjadi saat kita menjerang air, air menguap kalau temperaturnya di atas
100 derajat Celcius karena pada 100 derajat Celcius adalah perubahan fase dari
cair ke uap. Untuk mempercepat perubahan fase sebuah zat, biasanya ditambahkan
zat-zat khusus, misalnya garam dipakai untuk mempercepat fase pencairan es ke
air.
Biasanya
temperatur udara tepat di bawah awan adalah di bawah 0 derajat Celcius
(temperatur udara tergantung pada ketinggiannya di atas permukaan air laut).
Tapi, temperatur yang rendah saja belum cukup untuk menciptakan salju. Saat
partikel-partikel air murni tersebut bersentuhan dengan udara, maka air murni
tersebut terkotori oleh partikel-partikel lain. Ada partikel-partikel tertentu
yang berfungsi mempercepat fase pembekuan, sehingga air murni dengan cepat
menjadi kristal-kristal es.
Partikel-partikel
pengotor yang terlibat dalam proses ini disebut nukleator, selain berfungsi
sebagai pemercepat fase pembekuan, juga perekat antaruap air. Sehingga partikel
air (yang tidak murni lagi) bergabung bersama dengan partikel air lainnya
membentuk kristal lebih besar.
Jika
temperatur udara tidak sampai melelehkan kristal es tersebut, kristal-kristal es
jatuh ke tanah. Dan inilah salju! Jika tidak, kristal es tersebut meleleh dan
sampai ke tanah dalam bentuk hujan air.
Pada
banyak kasus di dunia ini, proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju
beberapa saat dia jatuh dari awan, tapi kemudian mencair saat melintasi udara
yang panas. Kadang kala, jika temperatur sangat rendah, kristal-kristal es itu
bisa membentuk bola-bola es kecil dan terjadilah hujan es. Kota Bandung
termasuk yang relatif sering mengalami hujan es. Jadi, ini sebabnya kenapa salju
sangat susah turun secara alami di daerah tropik yang memiliki temperatur udara
relatif tinggi dibanding wilayah yang sedang mengalami musim dingin.
Kristal salju memiliki struktur unik,
tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia
ini seperti sidik jari kita. Bayangkan, salju sudah turun semenjak bumi
tercipta hingga sekarang, dan tidak satu pun salju yang memiliki bentuk
struktur kristal yang sama!
Keunikan
salju yang lainnya adalah warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat,
hamparan bumi menjadi putih, bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan
struktur kristal salju memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke
semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih. Fenomena yang
sama juga bisa kita dapati saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan
gula, kabut, awan, dan cat putih.
Selain
itu, turunnya salju memberikan kehangatan. Ini bisa dipahami dari konsep
temperatur efektif. Temperatur efektif adalah temperatur yang dirasakan oleh
kulit kita, dipengaruhi oleh tiga besaran fisis: temperatur terukur (oleh
termometer), kecepatan pergerakan udara, dan kelembapan udara. Temperatur
efektif biasanya dipakai untuk menentukan "zona nyaman". Di pantai, temperatur
terukur bisa tinggi, namun karena angin kencang kita masih merasa nyaman. Pada
saat salju turun lebat, kelembapan udara naik dan ini memengaruhi temperatur
efektif sehingga pada satu kondisi kita merasa hangat.
Mengenai Proses Terjadinya Hujan Sakju Ini, Penjelasannya Sebagai berikut,
Pada awan dingin hujan dimulai dari adanya kristal-kristal es. yang berkembang membesar melalui dua cara yaitu deposit uap air atau air super dingin (supercooled water) langsung pada kristal es atau melalui penggabungan menjadi butiran es. Keberadaan kristal es sangat penting dalam pembentukan hujan pada awan dingin, sehingga pembentukan hujan dari awan dingin sering juga disebut proses kristal es.
Hujan, salju dan hujan batu es terutama disebabkan oleh air yang menjadi dingin. Salju terbentuk dalam atmosfer atas yang suhunya dibawah titik beku. Waktu jatuh lewat atmosfer salju mencair dan menjadi hujan. Pada musim dingin, salju jatuh tanpa menjadi cair dan masih berbentuk salju. Butiran salju terdiri dari kristal es kecil-kecil.
Sewaktu udara naik lebih tinggi ke atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian tertentu yang sumbunya berada di bawah titik beku, titik air dalam awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar dan menjadi butir-butir salju. Bila menjadi terlalu berat, salju itu turun. Bila melalui udara lebih hangat, salju itu mencair menjadi hujan. Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair.
Dapat disimpulkan, bahwa proses hujan salju diawali dengan proses Evaporasi/Transpirasi Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk salju, es.
![]() |
![]() |
Proses Terjadinya Hujan Salju - Bagaimana proses terjadinya hujan salju? Untuk menjawab
itu, bisa kita mulai dari proses terjadinya salju. Berawal dari uap air yang
berkumpul di atmosfer Bumi, kumpulan uap air mendingin sampai pada titik
kondensasi (yaitu temperatur di mana gas berubah bentuk menjadi cair atau
padat), kemudian menggumpal membentuk awan. Pada saat awal pembentukan awan,
massanya jauh lebih kecil daripada massa udara sehingga awan tersebut mengapung
di udara persis seperti kayu balok yang mengapung di atas permukaan air. Namun,
setelah kumpulan uap terus bertambah dan bergabung ke dalam awan tersebut,
massanya juga bertambah, sehingga pada suatu ketika udara tidak sanggup lagi
menahannya. Awan tersebut pecah dan partikel air pun jatuh ke Bumi.
Partikel air yang jatuh itu adalah
air murni (belum terkotori oleh partikel lain). Air murni tidak langsung
membeku pada temperatur 0 derajat Celcius, karena pada suhu tersebut terjadi
perubahan fase dari cair ke padat. Untuk membuat air murni beku dibutuhkan
temperatur lebih rendah daripada 0 derajat Celcius. Ini juga terjadi saat kita
menjerang air, air menguap kalau temperaturnya di atas 100 derajat Celcius
karena pada 100 derajat Celcius adalah perubahan fase dari cair ke uap. Untuk
mempercepat perubahan fase sebuah zat, biasanya ditambahkan zat-zat khusus,
misalnya garam dipakai untuk mempercepat fase pencairan es ke air.
Biasanya temperatur udara tepat di
bawah awan adalah di bawah 0 derajat Celcius (temperatur udara tergantung pada
ketinggiannya di atas permukaan air laut). Tapi, temperatur yang rendah saja
belum cukup untuk menciptakan salju. Saat partikel-partikel air murni tersebut
bersentuhan dengan udara, maka air murni tersebut terkotori oleh
partikel-partikel lain. Ada partikel-partikel tertentu yang berfungsi
mempercepat fase pembekuan, sehingga air murni dengan cepat menjadi
kristal-kristal es.
Partikel-partikel pengotor yang
terlibat dalam proses ini disebut nukleator, selain berfungsi sebagai
pemercepat fase pembekuan, juga perekat antaruap air. Sehingga partikel air
(yang tidak murni lagi) bergabung bersama dengan partikel air lainnya membentuk
kristal lebih besar.
Jika temperatur udara tidak sampai
melelehkan kristal es tersebut, kristal-kristal es jatuh ke tanah. Dan inilah
salju! Jika tidak, kristal es tersebut meleleh dan sampai ke tanah dalam bentuk
hujan air.
Pada banyak kasus di dunia ini,
proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju beberapa saat dia jatuh dari
awan, tapi kemudian mencair saat melintasi udara yang panas. Kadang kala, jika
temperatur sangat rendah, kristal-kristal es itu bisa membentuk bola-bola es
kecil dan terjadilah hujan es. Kota Bandung termasuk yang relatif sering
mengalami hujan es. Jadi, ini sebabnya kenapa salju sangat susah turun secara
alami di daerah tropik yang memiliki temperatur udara relatif tinggi dibanding
wilayah yang sedang mengalami musim dingin.
Kristal salju memiliki struktur
unik, tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia ini
seperti sidik jari kita. Bayangkan, salju sudah turun semenjak bumi tercipta
hingga sekarang, dan tidak satu pun salju yang memiliki bentuk struktur kristal
yang sama!
Keunikan salju yang lainnya adalah
warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat, hamparan bumi menjadi putih,
bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan struktur kristal salju
memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah
yang sama, maka muncullah warna putih. Fenomena yang sama juga bisa kita dapati
saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan gula, kabut, awan, dan cat
putih.
Akibat Hujan Salju Melanda Berhari-hari
Bagaimana
proses terjadinya hujan salju?
![]() |
Untuk
menjawab itu, bisa kita mulai dari proses terjadinya salju... dan sebenarnya
mengenai ini sudah dijelaskan diatas yaitu berawal dari uap air yang berkumpul
di atmosfer Bumi, kumpulan uap air mendingin sampai pada titik kondensasi
(yaitu temperatur di mana gas berubah bentuk menjadi cair atau padat), kemudian
menggumpal membentuk awan. Pada saat awal pembentukan awan, massanya jauh lebih
kecil daripada massa udara sehingga awan tersebut mengapung di udara persis
seperti kayu balok yang mengapung di atas permukaan air. Namun, setelah
kumpulan uap terus bertambah dan bergabung ke dalam awan tersebut, massanya
juga bertambah, sehingga pada suatu ketika udara tidak sanggup lagi menahannya.
Awan tersebut pecah dan partikel air pun jatuh ke Bumi.
Partikel
air yang jatuh itu adalah air murni (belum terkotori oleh partikel lain). Air
murni tidak langsung membeku pada temperatur 0 derajat Celcius, karena pada
suhu tersebut terjadi perubahan fase dari cair ke padat. Untuk membuat air
murni beku dibutuhkan temperatur lebih rendah daripada 0 derajat Celcius. Ini
juga terjadi saat kita menjerang air, air menguap kalau temperaturnya di atas
100 derajat Celcius karena pada 100 derajat Celcius adalah perubahan fase dari
cair ke uap. Untuk mempercepat perubahan fase sebuah zat, biasanya ditambahkan
zat-zat khusus, misalnya garam dipakai untuk mempercepat fase pencairan es ke
air.
Biasanya
temperatur udara tepat di bawah awan adalah di bawah 0 derajat Celcius
(temperatur udara tergantung pada ketinggiannya di atas permukaan air laut).
Tapi, temperatur yang rendah saja belum cukup untuk menciptakan salju. Saat
partikel-partikel air murni tersebut bersentuhan dengan udara, maka air murni
tersebut terkotori oleh partikel-partikel lain. Ada partikel-partikel tertentu
yang berfungsi mempercepat fase pembekuan, sehingga air murni dengan cepat
menjadi kristal-kristal es.
Partikel-partikel
pengotor yang terlibat dalam proses ini disebut nukleator, selain berfungsi
sebagai pemercepat fase pembekuan, juga perekat antaruap air. Sehingga partikel
air (yang tidak murni lagi) bergabung bersama dengan partikel air lainnya
membentuk kristal lebih besar.
Jika
temperatur udara tidak sampai melelehkan kristal es tersebut, kristal-kristal es
jatuh ke tanah. Dan inilah salju! Jika tidak, kristal es tersebut meleleh dan
sampai ke tanah dalam bentuk hujan air.
Pada
banyak kasus di dunia ini, proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju
beberapa saat dia jatuh dari awan, tapi kemudian mencair saat melintasi udara
yang panas. Kadang kala, jika temperatur sangat rendah, kristal-kristal es itu
bisa membentuk bola-bola es kecil dan terjadilah hujan es. Kota Bandung
termasuk yang relatif sering mengalami hujan es. Jadi, ini sebabnya kenapa salju
sangat susah turun secara alami di daerah tropik yang memiliki temperatur udara
relatif tinggi dibanding wilayah yang sedang mengalami musim dingin.
Kristal salju memiliki struktur unik,
tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia
ini seperti sidik jari kita. Bayangkan, salju sudah turun semenjak bumi
tercipta hingga sekarang, dan tidak satu pun salju yang memiliki bentuk
struktur kristal yang sama!
Keunikan
salju yang lainnya adalah warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat,
hamparan bumi menjadi putih, bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan
struktur kristal salju memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke
semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih. Fenomena yang
sama juga bisa kita dapati saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan
gula, kabut, awan, dan cat putih.
Selain
itu, turunnya salju memberikan kehangatan. Ini bisa dipahami dari konsep
temperatur efektif. Temperatur efektif adalah temperatur yang dirasakan oleh
kulit kita, dipengaruhi oleh tiga besaran fisis: temperatur terukur (oleh
termometer), kecepatan pergerakan udara, dan kelembapan udara. Temperatur
efektif biasanya dipakai untuk menentukan "zona nyaman". Di pantai, temperatur
terukur bisa tinggi, namun karena angin kencang kita masih merasa nyaman. Pada
saat salju turun lebat, kelembapan udara naik dan ini memengaruhi temperatur
efektif sehingga pada satu kondisi kita merasa hangat.
Mengenai Proses Terjadinya Hujan Sakju Ini, Penjelasannya Sebagai berikut,
Pada awan dingin hujan dimulai dari adanya kristal-kristal es. yang berkembang membesar melalui dua cara yaitu deposit uap air atau air super dingin (supercooled water) langsung pada kristal es atau melalui penggabungan menjadi butiran es. Keberadaan kristal es sangat penting dalam pembentukan hujan pada awan dingin, sehingga pembentukan hujan dari awan dingin sering juga disebut proses kristal es.
Hujan, salju dan hujan batu es terutama disebabkan oleh air yang menjadi dingin. Salju terbentuk dalam atmosfer atas yang suhunya dibawah titik beku. Waktu jatuh lewat atmosfer salju mencair dan menjadi hujan. Pada musim dingin, salju jatuh tanpa menjadi cair dan masih berbentuk salju. Butiran salju terdiri dari kristal es kecil-kecil.
Sewaktu udara naik lebih tinggi ke atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian tertentu yang sumbunya berada di bawah titik beku, titik air dalam awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar dan menjadi butir-butir salju. Bila menjadi terlalu berat, salju itu turun. Bila melalui udara lebih hangat, salju itu mencair menjadi hujan. Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair.
Dapat disimpulkan, bahwa proses hujan salju diawali dengan proses Evaporasi/Transpirasi Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk salju, es.
![]() |
![]() |
Proses Terjadinya Hujan Salju - Bagaimana proses terjadinya hujan salju? Untuk menjawab
itu, bisa kita mulai dari proses terjadinya salju. Berawal dari uap air yang
berkumpul di atmosfer Bumi, kumpulan uap air mendingin sampai pada titik
kondensasi (yaitu temperatur di mana gas berubah bentuk menjadi cair atau
padat), kemudian menggumpal membentuk awan. Pada saat awal pembentukan awan,
massanya jauh lebih kecil daripada massa udara sehingga awan tersebut mengapung
di udara persis seperti kayu balok yang mengapung di atas permukaan air. Namun,
setelah kumpulan uap terus bertambah dan bergabung ke dalam awan tersebut,
massanya juga bertambah, sehingga pada suatu ketika udara tidak sanggup lagi
menahannya. Awan tersebut pecah dan partikel air pun jatuh ke Bumi.
Partikel air yang jatuh itu adalah
air murni (belum terkotori oleh partikel lain). Air murni tidak langsung
membeku pada temperatur 0 derajat Celcius, karena pada suhu tersebut terjadi
perubahan fase dari cair ke padat. Untuk membuat air murni beku dibutuhkan
temperatur lebih rendah daripada 0 derajat Celcius. Ini juga terjadi saat kita
menjerang air, air menguap kalau temperaturnya di atas 100 derajat Celcius
karena pada 100 derajat Celcius adalah perubahan fase dari cair ke uap. Untuk
mempercepat perubahan fase sebuah zat, biasanya ditambahkan zat-zat khusus,
misalnya garam dipakai untuk mempercepat fase pencairan es ke air.
Biasanya temperatur udara tepat di
bawah awan adalah di bawah 0 derajat Celcius (temperatur udara tergantung pada
ketinggiannya di atas permukaan air laut). Tapi, temperatur yang rendah saja
belum cukup untuk menciptakan salju. Saat partikel-partikel air murni tersebut
bersentuhan dengan udara, maka air murni tersebut terkotori oleh
partikel-partikel lain. Ada partikel-partikel tertentu yang berfungsi
mempercepat fase pembekuan, sehingga air murni dengan cepat menjadi
kristal-kristal es.
Partikel-partikel pengotor yang
terlibat dalam proses ini disebut nukleator, selain berfungsi sebagai
pemercepat fase pembekuan, juga perekat antaruap air. Sehingga partikel air
(yang tidak murni lagi) bergabung bersama dengan partikel air lainnya membentuk
kristal lebih besar.
Jika temperatur udara tidak sampai
melelehkan kristal es tersebut, kristal-kristal es jatuh ke tanah. Dan inilah
salju! Jika tidak, kristal es tersebut meleleh dan sampai ke tanah dalam bentuk
hujan air.
Pada banyak kasus di dunia ini,
proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju beberapa saat dia jatuh dari
awan, tapi kemudian mencair saat melintasi udara yang panas. Kadang kala, jika
temperatur sangat rendah, kristal-kristal es itu bisa membentuk bola-bola es
kecil dan terjadilah hujan es. Kota Bandung termasuk yang relatif sering
mengalami hujan es. Jadi, ini sebabnya kenapa salju sangat susah turun secara
alami di daerah tropik yang memiliki temperatur udara relatif tinggi dibanding
wilayah yang sedang mengalami musim dingin.
Kristal salju memiliki struktur
unik, tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia ini
seperti sidik jari kita. Bayangkan, salju sudah turun semenjak bumi tercipta
hingga sekarang, dan tidak satu pun salju yang memiliki bentuk struktur kristal
yang sama!
Keunikan salju yang lainnya adalah
warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat, hamparan bumi menjadi putih,
bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan struktur kristal salju
memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah
yang sama, maka muncullah warna putih. Fenomena yang sama juga bisa kita dapati
saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan gula, kabut, awan, dan cat
putih.
Akibat Hujan Salju Melanda Berhari-hari
Bagaimana
proses terjadinya hujan salju?
![]() |
Untuk
menjawab itu, bisa kita mulai dari proses terjadinya salju... dan sebenarnya
mengenai ini sudah dijelaskan diatas yaitu berawal dari uap air yang berkumpul
di atmosfer Bumi, kumpulan uap air mendingin sampai pada titik kondensasi
(yaitu temperatur di mana gas berubah bentuk menjadi cair atau padat), kemudian
menggumpal membentuk awan. Pada saat awal pembentukan awan, massanya jauh lebih
kecil daripada massa udara sehingga awan tersebut mengapung di udara persis
seperti kayu balok yang mengapung di atas permukaan air. Namun, setelah
kumpulan uap terus bertambah dan bergabung ke dalam awan tersebut, massanya
juga bertambah, sehingga pada suatu ketika udara tidak sanggup lagi menahannya.
Awan tersebut pecah dan partikel air pun jatuh ke Bumi.
Partikel
air yang jatuh itu adalah air murni (belum terkotori oleh partikel lain). Air
murni tidak langsung membeku pada temperatur 0 derajat Celcius, karena pada
suhu tersebut terjadi perubahan fase dari cair ke padat. Untuk membuat air
murni beku dibutuhkan temperatur lebih rendah daripada 0 derajat Celcius. Ini
juga terjadi saat kita menjerang air, air menguap kalau temperaturnya di atas
100 derajat Celcius karena pada 100 derajat Celcius adalah perubahan fase dari
cair ke uap. Untuk mempercepat perubahan fase sebuah zat, biasanya ditambahkan
zat-zat khusus, misalnya garam dipakai untuk mempercepat fase pencairan es ke
air.
Biasanya
temperatur udara tepat di bawah awan adalah di bawah 0 derajat Celcius
(temperatur udara tergantung pada ketinggiannya di atas permukaan air laut).
Tapi, temperatur yang rendah saja belum cukup untuk menciptakan salju. Saat
partikel-partikel air murni tersebut bersentuhan dengan udara, maka air murni
tersebut terkotori oleh partikel-partikel lain. Ada partikel-partikel tertentu
yang berfungsi mempercepat fase pembekuan, sehingga air murni dengan cepat
menjadi kristal-kristal es.
Partikel-partikel
pengotor yang terlibat dalam proses ini disebut nukleator, selain berfungsi
sebagai pemercepat fase pembekuan, juga perekat antaruap air. Sehingga partikel
air (yang tidak murni lagi) bergabung bersama dengan partikel air lainnya
membentuk kristal lebih besar.
Jika
temperatur udara tidak sampai melelehkan kristal es tersebut, kristal-kristal es
jatuh ke tanah. Dan inilah salju! Jika tidak, kristal es tersebut meleleh dan
sampai ke tanah dalam bentuk hujan air.
Pada
banyak kasus di dunia ini, proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju
beberapa saat dia jatuh dari awan, tapi kemudian mencair saat melintasi udara
yang panas. Kadang kala, jika temperatur sangat rendah, kristal-kristal es itu
bisa membentuk bola-bola es kecil dan terjadilah hujan es. Kota Bandung
termasuk yang relatif sering mengalami hujan es. Jadi, ini sebabnya kenapa salju
sangat susah turun secara alami di daerah tropik yang memiliki temperatur udara
relatif tinggi dibanding wilayah yang sedang mengalami musim dingin.
Kristal salju memiliki struktur unik,
tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia
ini seperti sidik jari kita. Bayangkan, salju sudah turun semenjak bumi
tercipta hingga sekarang, dan tidak satu pun salju yang memiliki bentuk
struktur kristal yang sama!
Keunikan
salju yang lainnya adalah warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat,
hamparan bumi menjadi putih, bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan
struktur kristal salju memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke
semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih. Fenomena yang
sama juga bisa kita dapati saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan
gula, kabut, awan, dan cat putih.
Selain
itu, turunnya salju memberikan kehangatan. Ini bisa dipahami dari konsep
temperatur efektif. Temperatur efektif adalah temperatur yang dirasakan oleh
kulit kita, dipengaruhi oleh tiga besaran fisis: temperatur terukur (oleh
termometer), kecepatan pergerakan udara, dan kelembapan udara. Temperatur
efektif biasanya dipakai untuk menentukan "zona nyaman". Di pantai, temperatur
terukur bisa tinggi, namun karena angin kencang kita masih merasa nyaman. Pada
saat salju turun lebat, kelembapan udara naik dan ini memengaruhi temperatur
efektif sehingga pada satu kondisi kita merasa hangat.
Mengenai Proses Terjadinya Hujan Sakju Ini, Penjelasannya Sebagai berikut,
Pada awan dingin hujan dimulai dari adanya kristal-kristal es. yang berkembang membesar melalui dua cara yaitu deposit uap air atau air super dingin (supercooled water) langsung pada kristal es atau melalui penggabungan menjadi butiran es. Keberadaan kristal es sangat penting dalam pembentukan hujan pada awan dingin, sehingga pembentukan hujan dari awan dingin sering juga disebut proses kristal es.
Hujan, salju dan hujan batu es terutama disebabkan oleh air yang menjadi dingin. Salju terbentuk dalam atmosfer atas yang suhunya dibawah titik beku. Waktu jatuh lewat atmosfer salju mencair dan menjadi hujan. Pada musim dingin, salju jatuh tanpa menjadi cair dan masih berbentuk salju. Butiran salju terdiri dari kristal es kecil-kecil.
Sewaktu udara naik lebih tinggi ke atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian tertentu yang sumbunya berada di bawah titik beku, titik air dalam awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar dan menjadi butir-butir salju. Bila menjadi terlalu berat, salju itu turun. Bila melalui udara lebih hangat, salju itu mencair menjadi hujan. Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair.
Dapat disimpulkan, bahwa proses hujan salju diawali dengan proses Evaporasi/Transpirasi Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk salju, es.
![]() |
![]() |








Tidak ada komentar:
Posting Komentar